Berita

Saat Bantuan 190.000 Unit Alsintan Bergulir, Evaluasi Kinerja UPJA
  • Tanaman Pangan
  • 10-Sep-2018 07:39:12 WIB
  • 106 view

TIM Pelaksana Pembinaan dan Evaluasi Kinerja Usaha Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA) dari Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian RI melaksanakan penilaian pemanfaatan alsintan (alat mesin pertanian) di UPJA Sugih Mandiri Kampung Ciseureuh Girang RT 01/RW 09 Desa Margaasih, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, Sabtu (8/9/2018).

Pelaksanaan pembinaan dan evaluasi kinerja UPJA Sugih Mandiri itu dalam upaya meningkatkan skala ekonomi masyarakat yang terlibat langsung dalam UPJA. Di Kabupaten Bandung itu ada enam UPJA berbadan hukum untuk mendorong semangat generasi muda dalam bidang pertanian.

Tim Evaluasi Kinerja UPJA Berprestasi Tingkat Nasional 2018 itu, yakni Dr. Ir. Siti Munifah, DR. Ir. Trip Alihamsyah, M.Sc. Taufik Faturahman, SP.Sc., Sufina Trimarlisa, STP., dan  Pumomojati Anggoroseto, SP, M.Si.

Tim penilai itu langsung disambut Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung Ir. H. A Tisna Umaran, M.P., didampingi
Kepala Bidang Tanaman Pangan Ir. Ina Dewi Kania, M.P., Kasi Sarana dan Perlindungan Tanaman Pangan Ir. Agus Lukman, Camat Cicalengka H. Entang Kunia, S.E., M.Si., Manajer UPJA Sugih Mandiri Ajang, jajaran Dinas Pertanian dan Muspika Cicalengka lainnya.

Ketua Tim Penilai Evaluasi Kinerja UPJA Berprestasi Tingkat Nasional Dr. Ir. Siti Munifah mengatakan, pelaksanaan pembinaan dan evaluasi kinerja UPJA ini sempat vakum selama dua tahun.

"Disaat alsintan sedang gencar diberikan pemerintah hingga mencapai 190.000 unit di seluruh Indonesia. Bersamaan dengan itu, penilaian UPJA selama dua tahun sempat vakum. Oleh karena itu, pemerintah dengan sengaja kembali melakukan lagi penilaian UPJA," kata Siti.

Siti mengharapkan dengan adanya UPJA ini jangan fokus hanya mengurus mesin alsintan saja. "Tetapi diproses bisnis dari pemamfaatan alat mesin itu," harapnya.

Ia pun sempat bertanya kepada Manajer UPJA Sugih Mandiri Ajang, apakah UPJA ini dibentuk oleh dinas atau kelompok tani. Jika dibentuk oleh kelompok tani akan lebih kuat.

"Alat mesin pertanian ini diharapkan dapat menarik generasi  muda mau melanjutkan pertanian dengan adanya pemanfaatann modernasi alat mesin pertanian ini. Kami berharap generasi muda dilibatkan dalam pengelolaannya," ungkap Siti.

Ia pun mencontohkan UPJA di tempat lain sudah seperti pabrik dalam pengelolannya. Para petani itu tinggal memesan atau meminta kepada pihak UPJA untuk mengelola lahan pertanian dengan disiapkan benihnya. Sehingga Manajer UPJA menjadwalkan penggarapan lahan pertaniannya. "UPJA ini, sudah harus ke sana arahnya. Disaat akan panen, para petani sudah menyiapkan penyemaian," katanya.

Siti pun berharap dengan adanya UPJA ini menjadi sebuah usaha mandiri di level masyarakat petani, selain sudah berbentuk industri dalam pengelolaannua. "Harapannya  seperti itu. Kelembagaan dikukuhkan sebagai sebuah legalitas formal. Nanti tinggal AD/ART-nya diperjelas, supaya terus berkembang," tuturnya.

Menurut Siti, pelaksanaan UPJA ini bukan semata-mata untuk dinilai, melainkan bertujuan untuk industri dan skala ekonomi masyarakat. Supaya warga setempat mendapatkan pekerjaan dari UPJA tersebut, di antaranya sebagai operator alsintan.
Pihaknya pun mendorong Dinas Pertanian kerjasama dengan Balai Latihan untuk melaksanakan pelatihan bagi generasi muda. Di antaranya pelatihan menjadi operator alsintan. "Pemilik bengkel di UPJA juga untuk dipersiapkan," katanya.

Siti bersama tim penilai/evaluasi kinerja UPJA lainnya sempat berkeliling melihat lahan pertanian di Kabupaten Bandung. Alsintan yang disiapkan harus disesuaikan dengan kondisi lahan dan kebutuhan alsintan.

"Permintaan alat mesin disesuaikan dengan kondisi lapangan. Lahan terasering jangan diberi bantuan alsintan roda empat, melainkan yang kecil. Tak sesuai dalam memberikan bantuan alsinta tidak akan bisa dimanfaatkan  dengan baik. Hal itu untuk mengantisipasi adanya pihak lain yang mengkritisi penggunaan alsintan tak berfungsi dengan baik," ungkapnya.

Ia pun sempat menyinggung adanya alsintan yang tak berfungsi itu karena bukan permintaan dinas atau kelompok tani. "Tetapi berasal dari aspirasi atau pemberian yang tak sesuai dengan kebutuhan," ungkapnya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung Ir. H. A Tisna Umaran, M.P., mengatakan areal pertanian di Kabupaten Bandung seluas 35.000 hektare lebih yang tersebar di 31 kecamatan, 270 desa, dan 10 kelurahan. "UPJA Sugih Mandiri ini melayani para petani di Kabupaten Bandung, Sumedang, dan Garut," kata Tisna.

Menurutnya, dengan adanya UPJA ini, dukungan pemerintah pusat sangat terasa dengan adanya bantuan alsintan. "Sejak 2013, pemerintah sudah mengadakan mobil bengkel keliling alsintan. Itu sebagai bentuk pelayanan pemerintah kepada UPJA, berkaitan dengan material atau mesin alsintan," katanya.

Tisna mengatakan, ada enam UPJA berbadan hukum di Kabupaten Bandung. Pihaknya pun terus memonitoring alsintan dibantu TNI dan Polisi. Dengan harapan keberadaan alsintan bisa digunakan seoptimal mungkin untuk pertanian. "Kami berharap UPJA Sugih Mandiri ini bisa lebih maju di kemudian hari sesuai dengan harapan kita bersama," harapnya.

Kembali