Berita

Beras Ketan Hitam Asal Bandung Bahan Terbaik untuk Minuman Sake
  • Tanaman Pangan
  • 21-Sep-2019 16:13:50 WIB
  • 49 view

SOREANG, (PR).- Komoditas beras ketan berwarna hitam asal Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung  kembali dirintis untuk pasar ekspor. Setelah ekspornya terhenti beberapa tahun terakhir, sejumlah eksportir menyatakan minat kembali menjual ke Eropa dan sejumlah negara lainnya.

Gambaran tersebut diperoleh dari kunjungan Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Suwandi, sekaligus melakukan panen padi ketan warna hitam di Kelompok Barokah Desa Cipejeuh Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, Jumat 20 September 2019. 

Panen padi ketan berwarna hitam itu juga dihadiri Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat Hendi Jatnika, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung A Tisna Umaran, sejumlah eksportir dan pebisnis beras asal Pasar Induk Cipinang Jakarta, yang sekaligus berdikusi terkait perdagangan komoditas tersebut.

Kecamatan Pacet (Kabupaten Bandung) diketahui termasuk dari tiga sentra produksi beras ketan berwarna hitam di Jawa Barat, bersama Kabupaten Garut dan Kabupaten Tasikmalaya. Pada puncak musim kemarau 2019 ini, di Kecamatan Pacet masih dapat dilakukan panen padi ketan warna hitam.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi tampak serius memperhatikan produksi beras ketan hitam asal Kecamatan Pacet tersebut. Ia beberapa kali mempertanyakan peluang ekspor beras ketan hitam asal Pacet itu kepada sejumlah eksportir beras yang hadir.

“Potensinya sebagai unggulan ekspor dari Kabupaten Bandung sangat tinggi, apalagi beras ketan hitam diketahui banyak manfaatnya. Saya sarankan, produksi beras ketan hitam di Kabupaten Bandung ini, harus secara organik atau pun ramah lingkungan, agar lebih mudah diminati pasar internasional,” ujar Suwandi.

Varietas lokal

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat, Hendi Jatnika, mengatakan, bahwa produksi beras ketan hitam di Kabupaten Bandung, khususnya Kecamatan Pacet, berasal dari varietas lokal. "Memang membudidayakannya lebih lama, yaitu lima bulan. Namun jika ada varietas lain beras ketan hitam yang lebih cepat masa produksinya, rasanya tak akan seenak seperti bberas ketan lokal ini," katanya.

 Salah seorang eksportir, Cecep dari Pasar Induk Cipinang Jakarta, mengatakan, sebenarnya sejak Juni 2019, permintaan ekspor beras ketan hitam naik. Kendalanya, untuk memenuhi volume permintaan ekspor itu, tak dapat dilakukan secara cepat karena karakteristik produksi padinya yang memang tak dapat cepat dibandingkan padi biasa. 

  Eksportir lainnya, Hidayat mengatakan, bahwa beras hitam dan beras ketan merah paling diminati di Eropa dengan disebut dengan sticky rice. Namun pasar di Eropa menerapkan persyaratan dalam pengemasan, agar jangan sampai bocor, karena resikonya adalah munculnya kutu beras.

Disebutkan, beras ketan hitam asal Pacet ini, sebenarnya juga berpotensi dibuat aneka pangan olahan, misalnya kue, bukan sebatas makanan tradisional seperti raginang. Beras ketan hitanm diketahui  merupakan pangan yang tak mengandung atau minim glutamat, sehingga sangat potensial dipromosikan sebagai bahan baku industri pangan dengan label “gluten free”.




Gambaran harga

Petugas penyuluh lapangan di Kecamatan Pacet, Dodo menyebutkan, bahwa bertani padi ketan warna hitam rata-rata memerlukan biaya produksi Rp 10 juta/hektare, dengan produktivitas 12 ton/hektare dengan lama pengusahaan sekitar lima bulan. Ada pun harga jual gabah kering pungut dari petani saat ini sedang Rp 8.000/kg, dimana pada tingkat eceran dalam bentuk sudah menjadi beras sekitar Rp 20.000-22.000/kg, namun pada tingkat bisnis ritel mencapai Rp 33.000-35.000/kg.

Dodo pun membenarkan klaim pihak eksportir bahwa beras ketan hitam asal Pacet merupakan yang terbaik di dunia. Pemasarannya bukan hanya ke Eropa, juga sangat diminati di Jepang, apalagi, beras ketan hitam asal Pacet ini diketahui juga merupakan bahan terbaik untuk produksi minuman sake.

“Sayangnya, penjualan beras hitam asal Pacet ini masih melalui Kamboja. Biasana beras ketan hitam  asal Pacet ini dijual dalam bentuk tepung dari Kamboja, sebagai bahan baku produksi minuman sake ke Jepang itu,” ujarnya.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, A Tisna Umaran, menyebutkan, bahwa di Kabupaten Bandung setiap tahunnya, pembudidayaan padi ketan warna hitan sekitar 800 hektare. Pasarnya sejauh ini masih lokal, baik ke pasar tradisional maupun ritel.

Dalam diskusi Kementerian Pertanian, dan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat, dan Dinas Pertanian Kabupaten Bandung itu dengan  kelompok petani dan eksportir , disebut-sebut, bahwa beras ketan hitam asal Kabupaten Bandung, khususnya asal Pacet, sudah beberapa tahun terakhir belum kembali dilakukan ekspor. Salah seorang eksportir menunjukan kepada kelompok tani, agar dapat mempertahankan kualitas beras ketan hitam tersebut untuk menjaga kepercayaan pasar internasional.


sumber : https://www.pikiran-rakyat.com

















Kembali