Berita

Potensi Tanaman Padi Ketan Hitam Kabupaten Bandung Capai 800 Hektare
  • Tanaman Pangan
  • 21-Sep-2019 16:17:17 WIB
  • 85 view

POTENSI tanaman padi ketan hitam di Kabupaten Bandung mencapai seluas 800 hektare. Melihat potensi tanaman varietas lokal yang memiliki keunggulan tersendiri itu, Dirjen Tanaman Pangan dan Hortikultura Kementerian RI Suwandi melaksanakan panen tanaman padi ketan hitam di Kp. Cilandak Desa Cipeujeuh Kecamatan Pacet Kabupaten Bandung, Jumat (20/9/2019).

Saat panen, Suwandi didampingi Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat Hendi Jatnika dan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung H. A. Tisna Umaran. Di kelompok tani Jasa Rama itu seluas 32 hektare yang ditanami padi ketan hitam dari luas keseluruhan di Kecamatan Pacet mencapai 375 hektare.

Proses panen tanaman padi ketan hitam dengan usia tanam 5 bulan itu dengan cara manual menggunakan pemotong etem. Hasilnya pun mencapai 6-7 ton per hektare, dari biaya pengolahan lahan menghabiskan Rp 10 juta per hektare. Produksi beras ketan hitam ini di pasaran tembus Rp 20.000-Rp 21.000/kg.

Namun nilai pemasaran akan meningkat jika ada impor barang dengan kualitas yang bagus. Untuk membantu para petani, Suwandi pun mengajak tiga importir untuk pemasaran beras ketan hitam. Para importir berharap para petani bisa meningkatkan kualitas butiran beras ketan hitam yang bagus supaya bisa dipasarkan ke negara-negara di Asia.

Namun saat ini, para petani masih memasarkan beras ketan hitam melalui bandar di Pasar Cipinang Jakarta, selain dipasarkan melalui supermarket dengan harga lebih tinggi. Selama ini pasar ketan hitam sangat luas, sehingga pasokan produksi dengan mudah terserap pasar dan perlu ada perluasan pasar.

Di sela-sela panen padi ketan hitam, Suwandi mengatakan, pertanian padi ketan hitam itu memiliki nilai manfaat yang cukup besar.

"Ini merupakan jerih payah petani lokal dengan masa tanam 5 bulan," kata Suwandi.

Menurutnya, beras ketan pasokannya terbatas, sehingga para petani yang mengatur harga di pasar.

"Di tempat lain enggak ada. Gunakan benih yang bagus. Petani bisa mengatur harga. Pemasaran bisa dengan cara online," kata Suwandi.


sumber : http://www.galamedianews.com

Kembali